Senin, 02 Agustus 2010

Peran Dokter Indonesia dalam
Penanggulangan Epidemi HIV-AIDS di Indonesia



Saat ini sudah waktunya upaya peningkatan program penanggulangan HIV-AIDS yang komprehensif sehingga dapat berpengaruh secara nyata dan optimal dalam penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia, termasuk keterlibatan peran organisasi profesi kesehatan, seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS secara nasional.

Selain adanya percepatan epidemi HIV, Indonesia juga menghadapi masalah epidemi pengunaan napza (narkoba dan zat adiktif), yang masih menjadi kontribusi utama penularan HIV, selain itu adanya peningkatan transmisi dari blood-borne virus, seperti penularan virus hepatitis B dan C, serta HIV.

Perluasan transmisi semakin kompleks karena penularan seksual yang tidak dapat dihentikan, karena rendahnya pemakaian kondom pada seks berisiko.

Dampak epidemi HIV-AIDS tidak mudah ditanggulangi, adanya masalah koinfeksi pada orang-orang yang terkena HIV. Problema koinfeksi HIV dengan HCV, HBV, TB, serta penyakit infeksi lainnya mendorong penanganan yang lebih komprehrensif. Koinfeksi tidak saja dapat memperburuk status kesehatan orang dengan HIV, juga HIV itu sendiri mempercepat situasi dampak buruk infeksi lainnya.

Pada umumnya tenaga profesi kesehatan di Indonesia belum siap menghadapi epidemi HIV dengan problema koinfeksinya, sehingga diperlukan advokasi untuk pengembangan kurikulum kedokteran dan pendidikan dokter berkelanjutan (Continuing Professional Development) yang dapat meningkat kompetensi dokter Indonesia dalam mengenali dan menangani koinfeksi HIV dengan pathogen lainnya.

Selain itu penularan HIV semakin meluas ke pasangan seksnya (isteri) dan anaknya. Pada umumnya ketahanan hidup anak dengan HIV juga masih buruk.

Semua permasalahan ini mendorong Ikatan Dokter Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam penanggulangan HIV di Indonesia. Peran yang perlu dijalani sebagai organisasi profesi adalah selain mendorong para anggotanya – para dokter yang bekerja di wilayah Indonesia – untuk tidak saja lebih peduli, tetapi juga terlibat aktif dalam upaya penanggulangan yang bersifat komprehensif dan kontinyu, yaitu dari upaya pencegahan, diagnosis, pengobatan serta dukungan psiko-sosial. Diharapkan tidak perlu terjadi lagi perilaku yang diskriminatif dan stigmatisasi oleh profesional kesehatan dalam hal yang terkait dengan HIV-AIDS.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar